Bukan Cinta Biasa
Hari senin yang sangat cerah. Setelah anak-anak selesai
melaksanakan upacara bendera, mereka semua menuju kelasnya masing-masing untuk
belajar di kelasnya. Hari ini ada empat mata pelajaran yakni matematika,
Bahasa indonesia, Bahasa Inggris, dan Sejarah.
Namaku Diba remaja berusia 15 tahun yang sedang duduk di bangku
Sekolah Menengah Pertama. Aku seorang remaja yang pendiam dan pemalu . Kata
teman-temanku, aku murid yang cukup pintar di sekolah . Aku juga menjadi
primadona di kelas karena tubuhku yang tinggi dan warna kulitku yang putih, aku
bahagia sekarang meskipun aku hanya tinggal bersama nenekku di desa karena
ibuku bekerja di kota untuk menghidupi kami.
Mata pelajaran yang pertama adalah matematika. Bu Titi
menyuruh untuk mengerjakan halaman 7 sampai 8. Suasana di dalam kelas nampak
hening ketika aku dan teman-temanku sedang mengerjakan soal yang diberikan oleh
Bu Titi . Aku sangat menyukai pelajaran matematika Setelah selesai,
“anak-anak tolong pelajari materi perkalian dan pembagian
dengan soal cerita karena sewaktu-waktu
akan diadakan tes dadakan setelah
melaksanakan proses belajar di sekolah.” pesan Bu Titi kepada murid-muridnya.
”Yahhh bu,” keluh Lisa (salah satu temanku).
“sudah! Sekarang kalian boleh pulang kerumah kalian
masing-masing”, perintah bu Titi.
Aku dan lisa pulang
bersama, kita naik sepeda berjejer melewati pinggir sungai dan sawah.
“Diba kamu tahu nggak tadi ada anak baru lucu banget
hahaha”, cerita lisa sambil tertawa.
”He iya hhahahha aku
juga lihat lis,” sahut ku.
Aku memang anak yang
pendiam namun berbeda saat sudah bersama Lisa, aku menjadi sosok anak
yang periang.
“Setelah makan siang nanti kita bermain bersama ya? Di rumahku ada
boneka baru yang dibelikan ayahku dari Bandung.” Pinta Lisa saat akan berpisah
dengan ku.
Setelah sampai di rumah,
aku berganti baju dan makan. Namun ada yang berbeda tubuhku ketika aku makan
siang.
“Badanku kok panas nek, kepalaku juga pusing” keluhku
kepada neneknya.
"Mungkin Kamu kecapean ndok, wes sana Istirahat,”(artinya
sudah sana istirahat), pinta nenek Diba.
“iya nek”, turut aku
Akupun mengurungkan
niatnya untuk pergi bermain bersama Lisa karna memang badanku sangat panas.
Sore hari setelah memutuskan tidur selama 2 jam, saat bangun
tiba-tiba tubuhku terasa kaku, susah untuk digerakkan, bahkan susah untuk
bicara, mulutku kelu.
”hhhhhhhhhhhhh nekk,” rintihan dan tangisku bercampur memanggil
nenek.
“iya ndok” (ndok sebutan anak perempuan di jawa timur), nenek Diba
kaget saat mengetahui kondisi tubuhku yang tidak bisa digerakkan,
”Kamu kenapa Nduk”, tanya nenek khawatir.
“emmmmmmmm", aku berusaha untuk membuka mulut dan bicara,
namun sia-sia, hanya air mata yang keluar dari bola matanya.
Setelah beberapa saat aku sudah dibawa ke rumah sakit, aku
didiaknosis menderita penyakit kifosis. Penyakit yang sangat langka dan sulit
disembuhkan. Kifosis (kyphosis) adalah kelainan di lengkungan tulang belakang
yang membuat punggung bagian atas terlihat membulat atau bengkok tidak normal.
Setiap orang memiliki tulang belakang yang melengkung, pada kisaran 25 sampai
45 derajat. Akan tetapi pada penderita kifosis, kelengkungan tulang belakang
bisa mencapai 50 derajat atau lebih.
Kondisi tersebut membuat orang menjadi
bungkuk. Pada umumnya, kifosis hanya menimbulkan sedikit masalah dan tidak
perlu ditangani. Akan tetapi pada kasus yang parah, kifosis dapat menyebabkan
nyeri, serta gangguan pernapasan. Kondisi tersebut perlu ditangani dengan prosedur bedah.
Tidak
terasa tiga tahun sudah aku menderita kifosis. Aku kehilangan segalanya,
temanku meninggalkan aku. Pendidikan Sudah tak terpikirkan, aku sudah lama
putus sekolah, aku putus asa dengan diriku sendiri. Hidupku hanya tentang rasa
sakit, sendiri, sepi, malu karna aku hidupku hanya tentang rasa sakit, sendiri,
sepi, dan malu karena aku merasa berbeda. Tubuhku bungkuk dan dadaku sesak
meskipun sudah banyak perubahan selama 3 tahun terakhir ini. Aku tetap
mengurung diri di kamar.
“Ya
Allah kenapa Kau beri aku sakit seperti ini? Kenapa aku berbeda?”, Keluhku
Sampai
suatu ketika aku bertemu dengan sesorang yang sangat baik hati yang dapat
merubah pola pikirku menggembalikan semangat hidupku. Namanya Bu Empi, aku biasa
memanggilnya mamah. Mamah sangat baik padaku, sangat menyayanggiku. Yah aku
rasa mamah mengantikam sosok ibu yang telah lama pudar. Ibu kandungku sudah
lama di kota bekerja untuk kesembuhanku. Mamah selalu ada, mamah mendampingi
aku setiap saat.
“Mah
aku pengen sekolah”, pintaku manja kepada mamah.
”Iya
sayang sekolah di sekolah an nya mamah ya”, jawab mamah (mamah adalah kepala sekolah
SMA swasta di kota). Aku sangat bahagia mendenggar tawaran mamah.
“Iya
mah aku mau”,respons aku dengan cepat. Namun, seketika mimik wajahku berubah
sedih,
”Diba
kenapa”, tanya mamah.
“Aku
malu mah”, jawab aku.
“Tidak
apa sayang, semua akan menerima kamu disana, pelan-pelan kamu harus belajar
menumbukan
rasa percaya diri, kamu cantik, kamu baik!”, mamah menyemanggatiku.
Aku terharu dan bangga melihat kasih sayang dan cinta mamah yang begitu besar
kepadaku. Hari
ini matahari kembali bersinar cerah, bersamaan dengan kembalinya kebahagian
semangat dan cinta. Aku kembali merasakan cinta yang luar biasa, cinta dari
mamah. Bukan cinta biasa, aku menyanggi Mamah.
Penulis Cerpen
: Dewi Titik sholikhahInstagram
: @sholikhah.dewiEmail
:
dewititik12@gmail.com