SABAR MEMBUAT HATI BERSINAR
Oleh: Prayoga Vicky Gusniawan
Banyak sekali macam-macam sabar dan pengaplikasian disetiapnya. Akan tetapi kali ini kita akan sedikit membahas mengenai sabar kalam konteks fenomena hubungan dengan seseorang namun sebenarnya konsep dasarnya semuanya sama. Pasti kalian pernah merasakan yang namanya jengkel, marah, muak, atau bahkan hingga menimbulkan sifat kebencian terhadap sesuatu. Memanglah jikalau kita tinjau sifat dari kalangan pemuda yang cenderung “grusa-grusu” tidak sabaran kalau orang Jawa bilang, berambisi besar, dan mudah sekali tersulut api apabila diberi sedikit bahan bakar. It’s okay!, itu merupakan sifat yang lumprah bagi pemuda yang tergolong labil apalagi dengan didukung lingkungan yang mungkin kurang baik. Akan tetapi apabila kekurangan tersebut sedikit dibanting setir kekanan mungkin sebenarnya bisa menghasilkan suatu nilai tambah tersendiri. Tetapi sadarkah kita? Sifat-sifat kiri tersebut sebenarnya merugikan pribadi masing-masing maupun orang lain. Apabila tidak dilatih untuk membiasakan diri dalam bersabar. Bak minum arak ketika sedang lomba catur, pasti tidak akan pernah memenangkan kejuaraannya, dimana disini yang dikalahkan dalam konteks hawa nafsunya sendiri, yang harus ekstra konsentrasi penuh dan tenang, yang hal tersebut tidak akan pernah dimiliki oleh seseorang yang pusing kepalanya “mabuk”. Memang benar kata “sabar” lebih mudah dan sering diucapkan ketimbang diaplikasikan dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan itu tidak terpaku hanya dari golongan muda saja, bahkan golongan tua pun mengalaminya. Tetapi pertanyaanya adalah jika tidak dilatih sama sekali, bagaimana sesuatu kebiasaan itu akan berhasil terbentuk? Bagaimana jikalau kebiasaan buruk tersebut terbawa hingga tua? Naudzubillah Min Dzalik.
Mari kita coba merefleksi dari kejadian-kejadian belakangan ini, dimana Indonesia sedang diuji dengan berbagai cobaan. Ibu pertiwi menangis! Ketika melihat anak pertiwinya memiliki suatu karakter yang jauh dari sifat nenekmoyangnya yang cenderung tidak sopan dan santun bahkan berani melawan orang tuanya dengan keterlaluan . Ibu pertiwi sedih! Ketika melihat pemuda pertiwinya saling mengandalkan emosi, saling baku hantam ketika tersenggol sedikit, saling adu mulut ketika tak sepaham (dalam maksud negatif) dan saling “satru” satu sama lain. Ibu pertiwi sedang terkejud jengkel! Ketika melihat leader pertiwinya saling menyalahgunakan kemampuannya untuk menghasut pemuda pertiwi dalam tujuan pribadi atau sekelompok. Hal yang aneh ketika kejadian-kejadian diatas justru membawa suatu nama kepercayaan (agama), organisasi, lembaga instansi atau sekelompok orang yang jelas saya meyakini 100% tidak terdapat maksud yang mereka anggap kanan sebenarnya kiri dalam tujuan pembentukan suatu wadah tersebut. Dari kejadian-kejadian diatas tidak salah lagi sifat setan (sifat amarah) sedang bertengger dalam hatinya masing-masing, hingga berhasil menguapkan seluruh air didalam pancinya.
Bagaimana jikalau kita balik semuanya dengan mengendepankan sifat sabar? Ibu Pertiwi akan senang! Karena melihat anak pertiwinya sopan, santun dan patuh terhadap orang tua. Ibu pertiwi akan gembira! Karena pemuda pertiwinya tidak mudah diprovokasi, bahkan bisa menyelesaikan masalah tanpa mengedepankan emosi. Ibu pertiwi akan menangis haru! Ketika leader pertiwi memimpin tanpa provokasi. Tentunya hal tersebut akan membuat damai sekitar kita apabila kita menerapkan sabar di nomor pertama.
Jikalaupun ditinjau dari perspeksif islam, ajaran-ajaran untuk sabar sangat dianjurkan ketika memecahkan sesuatu atau bahkan menghadapi suatu keburukan, Bahkan kata sabar disebutkan sebanyak 74 kali dalam Al-Qur’an. Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Terdapat tiga sifat jika disandang seseorang dirinya akan dilindungi Allah SWT, diliputi rahmat-Nya, dan dimasukkan dalam cinta-Nya, yaitu bersyukur ketika diberi rezeki, memberi ampun ketika mampu (untuk relawan), dan mampu mengendalikan diri saat marah.” Hal ini membuktikan pentingnya kita bersifat untuk bersabar yang seharusnya dimiliki oleh setiap insan terutama dari golongan pemuda. Gus Yusuf juga pernah menghimbau namun dalam konotasi Pandemi, "Wa sabru bidayatus syifa, kesabaran, keikhlasan kita menghadapi masalah ini adalah awal dari kesembuhan," jelasnya melalui video yang diunggah di akun Facebooknya, Kamis (2/4). Akan tetapi, hal ini juga berlaku pada setiap penyelesaian masalah bahwa pada akhirnya kesabaranlah yang menjadi langkah yang tepat sekaligus obat dalam mematikan api emosi dalam diri sekaligus yang akan membuat hati kita bersinar terang.
Kedewasaan dalam menyelesaikan masalah terutama untuk kalangan pemuda. sudah tidak zaman lagi menyelesaikan masalah dengan baku hantam. Bahkan mirisnya, apalagi penyebab daripadanya hanyalah hal yang sepele. Jangan pernah merasa paling hebat tetap ingat, Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadist tersebut sangat cocok untuk kita jadikan pegangan hidup terutama bagi para pemuda.
Oleh karena itu saya mengajak kepada seluruh pembaca dan terutama diri saya sendiri untuk selalu mengendepankan sabar karena akan menimbulkan suatu hal positif bagi kita semua. Sesungguhnya Allah SWT bersama orang-orang yang sabar.

mantab mantab
ReplyDeleteBoleh,boleh...
ReplyDeleteSungguh bermanfaat. Barakallah Dek. Semoga selalu istiqomah yaa. Saya bangga, Indonesia bangga.
ReplyDelete