Wikipedia

Search results

Sunday, June 7, 2020

CERPEN

Bukan Cinta Biasa



    Hari senin yang sangat cerah. Setelah anak-anak selesai melaksanakan upacara bendera, mereka semua menuju kelasnya masing-masing untuk belajar di kelasnya. Hari ini ada empat mata pelajaran yakni matematika, Bahasa indonesia, Bahasa Inggris, dan Sejarah.

    Namaku Diba remaja berusia 15 tahun yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Aku seorang remaja yang pendiam dan pemalu . Kata teman-temanku, aku murid yang cukup pintar di sekolah . Aku juga menjadi primadona di kelas karena tubuhku yang tinggi dan warna kulitku yang putih, aku bahagia sekarang meskipun aku hanya tinggal bersama nenekku di desa karena ibuku bekerja di kota untuk menghidupi kami.
    
    Mata pelajaran yang pertama adalah matematika.  Bu Titi menyuruh untuk mengerjakan halaman 7 sampai 8. Suasana di dalam kelas nampak hening ketika aku dan teman-temanku sedang mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu Titi . Aku sangat menyukai pelajaran matematika Setelah selesai,

“anak-anak tolong pelajari  materi perkalian dan pembagian dengan soal cerita karena sewaktu-waktu 
akan diadakan tes dadakan setelah melaksanakan proses belajar di sekolah.” pesan Bu Titi kepada murid-muridnya.

”Yahhh bu,” keluh Lisa (salah satu temanku).
“sudah! Sekarang kalian boleh pulang kerumah kalian masing-masing”, perintah bu Titi.

Aku dan lisa pulang bersama, kita naik sepeda berjejer melewati pinggir sungai dan sawah.

“Diba kamu tahu nggak tadi ada anak baru lucu banget hahaha”, cerita lisa sambil  tertawa.
 
”He iya hhahahha aku juga lihat lis,” sahut ku.
 
Aku memang anak yang pendiam namun berbeda saat sudah bersama Lisa, aku menjadi sosok  anak yang periang.

“Setelah makan siang nanti kita bermain bersama ya? Di rumahku ada boneka baru yang dibelikan ayahku dari Bandung.” Pinta Lisa saat akan berpisah dengan ku.

Setelah sampai di rumah, aku berganti baju dan makan. Namun ada yang berbeda tubuhku ketika aku makan siang.

“Badanku  kok panas nek, kepalaku  juga pusing” keluhku kepada neneknya.

"Mungkin Kamu kecapean ndok, wes sana Istirahat,”(artinya sudah sana istirahat), pinta nenek Diba.

“iya nek”, turut aku

Akupun mengurungkan niatnya untuk pergi bermain bersama Lisa karna memang badanku sangat panas.
 
 
Sore hari setelah memutuskan tidur selama 2 jam, saat bangun tiba-tiba tubuhku terasa kaku, susah untuk digerakkan, bahkan susah untuk bicara, mulutku kelu.

”hhhhhhhhhhhhh nekk,” rintihan dan tangisku bercampur memanggil nenek.

“iya ndok” (ndok sebutan anak perempuan di jawa timur), nenek Diba kaget saat mengetahui kondisi tubuhku yang tidak bisa digerakkan,

”Kamu kenapa Nduk”, tanya nenek khawatir.

“emmmmmmmm", aku berusaha untuk membuka mulut dan bicara, namun sia-sia, hanya air mata yang keluar dari bola matanya.


    Setelah beberapa saat aku sudah dibawa ke rumah sakit, aku didiaknosis menderita penyakit kifosis. Penyakit yang sangat langka dan sulit disembuhkan. Kifosis (kyphosis) adalah kelainan di lengkungan tulang belakang yang membuat punggung bagian atas terlihat membulat atau bengkok tidak normal. Setiap orang memiliki tulang belakang yang melengkung, pada kisaran 25 sampai 45 derajat. Akan tetapi pada penderita kifosis, kelengkungan tulang belakang bisa mencapai 50 derajat atau lebih. 

Kondisi tersebut membuat orang menjadi bungkuk. Pada umumnya, kifosis hanya menimbulkan sedikit masalah dan tidak perlu ditangani. Akan tetapi pada kasus yang parah, kifosis dapat menyebabkan nyeri, serta gangguan pernapasan. Kondisi tersebut perlu ditangani dengan prosedur bedah.
Tidak terasa tiga tahun sudah aku menderita kifosis. Aku kehilangan segalanya, temanku meninggalkan aku. Pendidikan Sudah tak terpikirkan, aku sudah lama putus sekolah, aku putus asa dengan diriku sendiri. Hidupku hanya tentang rasa sakit, sendiri, sepi, malu karna aku hidupku hanya tentang rasa sakit, sendiri, sepi, dan malu karena aku merasa berbeda. Tubuhku bungkuk dan dadaku sesak meskipun sudah banyak perubahan selama 3 tahun terakhir ini. Aku tetap mengurung diri di kamar.

“Ya Allah kenapa Kau beri aku sakit seperti ini? Kenapa aku berbeda?”, Keluhku

    Sampai suatu ketika aku bertemu dengan sesorang yang sangat baik hati yang dapat merubah pola pikirku menggembalikan semangat hidupku. Namanya Bu Empi, aku biasa memanggilnya mamah. Mamah sangat baik padaku, sangat menyayanggiku. Yah aku rasa mamah mengantikam sosok ibu yang telah lama pudar. Ibu kandungku sudah lama di kota bekerja untuk kesembuhanku. Mamah selalu ada, mamah mendampingi aku setiap saat.

“Mah aku pengen sekolah”, pintaku manja kepada mamah.

”Iya sayang sekolah di sekolah an nya mamah ya”, jawab mamah (mamah adalah kepala sekolah SMA swasta di kota). Aku sangat bahagia mendenggar tawaran mamah.

“Iya mah aku mau”,respons aku dengan cepat. Namun, seketika mimik wajahku berubah sedih,

”Diba kenapa”, tanya mamah.

“Aku malu mah”, jawab aku.

“Tidak apa sayang, semua akan menerima kamu disana, pelan-pelan kamu harus belajar menumbukan 
rasa percaya diri, kamu cantik, kamu baik!”, mamah menyemanggatiku. 

    Aku terharu dan bangga melihat kasih sayang dan cinta mamah yang begitu besar kepadaku. Hari ini matahari kembali bersinar cerah, bersamaan dengan kembalinya kebahagian semangat dan cinta. Aku kembali merasakan cinta yang luar biasa, cinta dari mamah. Bukan cinta biasa, aku menyanggi Mamah.
 
 
 
 
 
 
Penulis Cerpen              : Dewi Titik sholikhah
Instagram                      : @sholikhah.dewi
Email                            : dewititik12@gmail.com


Tuesday, June 2, 2020

YA ALLAH APABILA AKU JATUH CINTA

YA ALLAH APABILA AKU JATUH CINTA

By : Prayoga Vicky Gusniawan


 

 

            Pada dasarnya banyak yang mencoba menjelaskan sebuah makna cinta sesungguhanya, dimulai dari orang awam hingga para ahli maupun filosof. Secara Entimologi, Cinta merupakan perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Bisa dikatakan bahwa cinta sangat berhubungan erat dengan suatu perasaan seseorang. Namun, kebanyakan orang tidak dapat menjelaskan secara utuh definisi cinta tersebut, hanya mampu menjelaskan suatu gejala-gejalanya saja. Sesuai yang ada didalam buku The Art of Loving karya Erich Fromm, beliau menyatakan bahwa ada empat gejala seseorang itu sedang cinta yaitu care, responsibility, respect, knowledge yang muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Merupakan suatu omong besar ketika ada orang yang mengaku mencintai kepada seseorang  akan tetapi mengajaknya dalam jurang kemaksiatan karena hal tersebut menyeleweng dari gejela-gejala dan peraturan. Cinta datang sering kali berbeda pandang, ada yang cinta karena nafsu, ada yang cinta karena balas budi, maupun ada yang cinta karena ketulusan dalam konteks kita sebagai seorang muslim yaitu cinta karena Allah semata. Pada kesempatan ini penulis akan membawa pembaca untuk menengok suatu bahasan mengenai cinta karena Allah dengan merefleksikan ringkasan sejarah cinta yang pernah dialami oleh Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah. “Ya Allah Apabila Aku Jatuh Cinta” maka kisah dibawah ini yang perlu pembaca pahami.

            Siapa yang tidak kenal dengan Sayyidina Ali, beliau merupakan khalifah keempat pada tahun 656 sampai 661. Beliau juga termasuk tokoh maupun pejuang islam di eranya dan salah satu sahabat utama Nabi. Pernikahannya dengan Fatimah az-Zahra juga menjadikannya sebagai menantu Nabi Muhammad. Di dalam pernikahannya ataupun di balik perjuangan cintanya terdapat suatu hikmah pelajaran “cinta” yang sederhana sekaligus sangat luar biasa yang dapat kita petik untuk pelajaran hidup ini.  Sayyidah Fatimah merupakan puteri kesayangan dari Nabi Muhammad, beliau merupakan sosok yang cantik parasnya, berani, santun, sederhana, dan sholehah. Akhlak mulia yang mengagumkan tersebut tersentak membuat Sayyidina Ali terpana namun tidak mengetahui apakah perasaan tersebut bisa dibilang dengan istilah “cinta”.

Dalam doanya beliau bermunajat,

“ Ya Allah Engkau tahu, hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaan-Mu. Tapi aku takut cinta yang belum waktunya menjadi penghalangku mencium syurga-Mu. Berikanlah aku kekuatan menjaga cinta ini, sampai tiba waktunya. Andaikan Engkau mempertemukanku dengannya kelak. Berikanlah aku kekuatan untuk melupakan sejenak. Bukan karena aku tidak mencintainya, akan tetapi aku sangat mencintainya.”

Pada suatu saat perasaannya semakin terlihat ketika sayyidah Fatimah dilamar oleh sahabatnya sekaligus orang terdekat Nabi yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu seorang lelaki yang tidak diragukan lagi iman dan akhlaknya. Beliau merasa jauh dibawah Abu bakr ketika membanding-bandingkan akhlak dan peran dalam kemaslahatan bersama terutama kaum muslimin. Dari segi finansial juga Abu Bark terlihat lebih bisa membahagiakan Sayyidah Fatimah. Karena Sayyidina Ali tergolong seorang yang miskin lagi pula dari keluarga miskin. Bahkan dalam suatu cerita upah atau penghasilan beliau untuk sehari terkadang cukup dibuat makan 3 hari dan terkadang untuk 3 hari kerja hanya cukup untuk sehari. Tidak menentu. Dalam hatinya berkata, “Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Beliau mulai mengikhlaskannya. Singkat cerita, tumbuh subur kembali cintanya ketika mendengar bahwa lamaran Abu Bark ditolak dan sayyidina Ali terus berusaha untuk memantaskan dirinya.

            Ujian cinta tersebut belum berakhir, selepas itu datanglah sahabat Nabi yang memiliki kedudukan tinggi dihadapan Nabi. Yaitu Umar ibn Al Khaththab seorang lelaki berani yang berpengaruh terhadap perjuangan islam kala itu. Lagi-lagi Sayyidina Ali kembali dirundung derita cinta yang menyakitkan dan kembali mempertimbangkan serta membanding-bandingkan dengan sahabat Umar. Menurutnya Sayyidina Umar lebih baik daripadanya. Sayyidina Ali pun hanya bisa bertawakal kepada Allah dan harus benar-benar mengikhlaskan kembali yang kedua kalinya. Beliau tetap yakin bahwasannya Allah SWT Maha Adil, pasti Allah akan mempersiapkan pendamping hidupnya. Dalam lubuk hatinya beliau berkata kembali, “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah diatas cintaku.” Sungguh tidak diduga, ternyata lamarkan dari sayyidina Umar juga ditolak dan pada akhirnya Sayyidina Ali memberanikan diri dengan didukung dorongan keyakinan kedua sahabatnya yang sebelumnya ditolak lamarannya yaitu Abu Bakr dan Umar, sungguh solidaritas persahabatan mereka menjulang tinggi melebihi rasa ingin memilikinya dan Sayyidina Ali dapat menyampaikan maksud kepada Rosulullah untuk melamar puterinya walaupun dalam keadaan tidak memiliki apa-apa hanya saja mempunyai satu set baju besi ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Singkat cerita Rosulullah menerima lamarannya karena akhlak mulia, kesederhanaanya dan sangat meyakini bahwa Allah Maha Kaya atas segalanya.

Kesederhanaan pernikahannya pula sangat patut kita contoh, bahkan dalam suatu cerita Rosulullah hanya menyiapkan baju pernikahan Sayyidah Fatimah dengan terdapat 12 tambal padahal Rosul bisa memberikan lebih. Karena nabi tidak mengajarkan puterinya untuk bermewah-mewahahan dengan berpakaian. Mungkin bertolak belakang dengan sikap manusia sekarang yang justru cenderung meninggikan gengsinya dengan cara apapun untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam ceramahnya Buya Yahya mewejang, “Orang yang aneh apabila mengaku cinta kepada Nabi namun dengan gaya hidup gengsi jika saja baju dan makanannya saja tidak sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad.” Sindiran tersebut tentunya harus menjadi pukulan keras bagi kita semua untuk selalu bergaya hidup sederhana tidak mewa-mewahan.

Sebagai seorang muslim tentu kita harus mencontoh akhlak mulia dari para tokoh diatas ketika sedang jatuh cinta. Harus mampu mengendalikan cinta yang asalnya dari nafsu semata. Kisah cinta sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah mengajarkan kita semua akan kesederhanaan, keberanian, dan keikhlasan dalam Cinta. Dan tentunya Tawakal kepada Allah merupakan langkah yang tepat ketika sedang dirundung cinta insan. Kebanyakan pemuda sekarang salah dalam pengaplikasian cintanya, wajar apabila terjadi banyak kasus tentang cinta, seperti perkelahian, cekcok, atau bahkan berani membunuh orang atau bunuh dirinya sendiri hanya karena cinta yang tidak jelas, tidak pasti! Menghindari cinta yang salah dan berusaha memantaskan diri untuk menjadi seorang yang tepat, tidak perlu mengikat anak orang dengan janji manis mulut saja tetapi nyatanya “BIG ZERO” itulah baru yang dinamakan “PEMUDA SEJATI” bak Sayyidina Ali.

Cinta sejati tidak akan membiarkan kekasihnya terjerumus dalam lingkaran dosa, apabila hal itu terjadi, sangat perlu dipertanyakan kembali! Apakah cinta dengan ketulusan atau hanya nafsu bulus?

 

 

 

-KETIKA ENGKAU SEDANG DIRUNDUNG DERITA CINTA INSAN YANG SEMAKIN MENDALAM, ALLAH LAH TEMPAT YANG TEPAT UNTUK BERTAWAKAL -

DIBALIK HATI CENDELA

  DIBALIK HATI CENDELA Karya : Prayoga Vicky Gusniawan   Ketika mentari pagi dari kisi menyubit mataku, Membangunkanku dari ikatan m...